Jl. Umanasoli No. 135 Kel. Lawanga Kec. Poso Kota Utara Kab. Poso 94615 081280223073
Integrasi Keilmuan di PTKI
08 Februari 2026 Opini Administrator 2 Dilihat

Integrasi Keilmuan di PTKI

Integrasi antara Kajian Keislaman dan ilmu-ilmu lain merupakan salah satu program unggulan di Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Dit. PTKI), Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama RI. Diskusi tentang tentang definisi dan ragam integrasi keilmuan sudah dilakukan oleh para profesor dan dosen sejak adanya transformasi kelembagaan dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) di tahun 2000-an. IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta berubah menjadi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 2002. IAIN Sunan Kalijaga menjadi UIN Sunan Kalijaga pada tahun 2004. Selanjutnya, Perguruan Tinggi Islam Negeri (PTKIN) lainnya berangsur-angsur bertransformasi menjadi UIN. Di tahun 2025 ini jumlah UIN di Kementerian Agama RI adalah 40 (39 UIN dan 1 UIII).

Konsekuensi dari transformasi kelembagaan ini adalah dibukanya Program-program Studi (Prodi) yang sangat beragam, tidak hanya dalam bidang agama, tetapi juga prodi-prodi dalam bidang ilmu sosial, humaniora dan ilmu alam. Ketika prodi-prodi ilmu umum didirikan, pertanyaan yang muncul adalah: Apa yang membedakan prodi-prodi umum di PTKI dari prodi-prodi umum di perguruan-perguruan tinggi umum, seperti UGM, UI, IPB, dan ITB? Jawaban atas pertanyaan ini adalah bahwa keilmuan yang ada di prodi-prodi umum di PTKI itu diintegrasikan dengan Kajian Keislaman.

Ide dan gagasan tentang integrasi keilmuan ini telah bergulir sekian lama. Karya-karya tentang integrasi keilmuan ini pun telah ditulis dan dipublikasikan oleh para akademisi di lingkungan PTKI, seperti Prof. Amin Abdullah (saat ini Penasehat BPIP) dan Prof. Imam Suprayogo (Mantan Rektor UIN Malang). Integrasi antara Studi Islam dan Ilmu Sosial/Humaniora telah diimplementasikan oleh para cendikiawan, seperti Prof. Nasaruddin Umar (saat ini Menteri Agama RI), Prof. Yudian Wahyudi (saat ini Kepala BPIP), Prof. Kamaruddin Amin (saat ini Sekretaris Jenderal Kemenag RI), dan Prof. Nur Syam (Mantan Sekjend Kemenag RI) dalam karaya-karya ilmiah mereka. Namun, implementasi atas integrasi keilmuan ini masih perlu ditingkatkan lagi di masa-masa mendatang di PTKI. Berangkat dari hal ini, saya -- yang juga sebagai akademisi -- tertarik untuk menyampaikan gagasan tentang implementasi atas integrasi keilmuan ini melalui artikel singkat ini.

Tipologi Integrasi

Ada tiga tipologi intergrasi keilmuan, yakni: (1) integrasi metodis, (2) integrasi substansial, dan (3) integrasi etis.

A. Integrasi Metodis

Intergrasi metodis adalah intergrasi antara Kajian Keislaman dan ilmu-ilmu lain dalam hal pendekatan, perspektif dan, atau metode dalam melakukan penelitian. Sebagai contoh, Abdul Kadir Toyab melakukan penelitian tentang penafsiran Muhammad ibn Jarir al-Thabari atas kata ‘fitnah’ dalam Al-Qur’an. Dalam hal ini, dia menggunakan beberapa pendekatan, perspektif dan metode secara sekaligus, yakni ilmu tafsir, ilmu sejarah dan ilmu politik. Dengan penelitian integratif semacam ini, dia menemukan beberapa hal, sebagai berikut.

Pertama, kata ‘fitnah’ ditafsirkan oleh al-Thabari dengan beberapa kemungkinan makna: ‘syirik/politeisme’(syirk), atau ‘ketidakjelasan dan keragu-raguan’ (syubhah dan labs). Untuk menentukan makna mana yang dimaksud dalam sebuah ayat, seseorang harus memperhatikan konteksnya (tekstual ataupun historis). Ketika menafsirakan kata tersebut pada Q 3:7: “… Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk menimbulkan ‘fitnah’ dan mencari-cari takwilnya …”, al-Thabari menerangkan bahwa kata fitnah tersebut berarti ‘ketidakjelasan dan keragu-raguan’, dan dengan demikian, penggalan ayat tersebut diartikan olehnya bahwa orang-orang yang hatinya condong kepada kesesatan itu menggunakan dan berargumentasi dengan ayat-ayat mutasyabihat untuk menimbulkan ‘keragu-raguan’ pada diri orang-orang yang berada dalam kebenaran (ahl al-haqq) dari kaum beriman (al-mu’minun) (al-Thabari, Jami‘ al-Bayan 5:214).

Al-Thabari menyebutkan sebagian kelompok yang dipandang sesat, karena mereka berpandangan ekstrem dan sering melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan yang sah pada masanya, seperti Khawarij dan sebagian kelompok Syi’ah. Dengan perspektif Imu Politik, Abdul Kader Toyab lalu meyimpulkan, “The political role of al-Ṭabarī in Bagdad may be detected in his understanding of fitna in the exegesis (Peran politik al-Thabari di Bagdad dapat diketahui dalam pemahamannya terhadap kata fitnah dalam penafsiran ini) (Toyab, “An Analytical Survey of al-Ṭabarī’s Exegesis of the Cultural Symbolic Construct of Fitna”, h. 160).

Contoh lain integrasi metodis adalah penelitian Ulrika Martensson yang berjudul “Through the Lens of Modern Hermeneutics: Authorial Intention in al-Ṭabarī’s and al-Ghazālī’s Interpretation of Q. 24:35” (JQS 11: 2, 2009). Dalam penelitian ini Martensson memaparkan dan menganalisa penafsiran kedua penafsir tersebut dengan perspektif hermeneutika modern, khususnya yang dikemukakan oleh Hans-Georg Gadamer dan E.D. Hirsch.

Integrasi metodis antara Ulumul Qur’an dan Hermeneutika juga terlihat di karya Sahiron Syamsuddin, Hermeneutika dan Pengembangan Ulumul Qur’an (2017). Di dalam buku ini diterangkan bagaimana teori-teori hermeneutika yang dikemukakan oleh para ahlinya, seperti Hans-Georg Gadamer, Jorge Gracia dan Paul Ricoeur, diintegrasikan dengan teori dan metode penafsiran Al-Qur’an. Teori fusion of horizons yang menyatakan bahwa dalam proses penafsiran teks diperlukan adanya penggabungan antara horison/wawasan teks dan horison penafsir. Hasil dari integrasi ini adalah terciptanya Pendekatan Ma‘na-cum-Maghza. Pendekatan yang dengannya seorang berusaha menemukan (1) al-ma‘na al-tarikhi (makna historis), (2) al-maghza al-tarikhi (pesan utama historis), dan (3) al-maghza al-mutaharrik al-mu‘ashir (pesan utama dinamis dan kontemporer). Dalam hal ini, integrasi keilmuan berarti penggabungan aspek-aspek metodis keilmuan dalam dua pohon ilmu tersebut.

B. Integrasi Substansial

Integrasi substansial adalah integrasi antara Studi Islam dan satu atau lebih dari ilmu pengetahuan lainnya dalam bidang ‘materi’ dari masing-masing ilmu tersebut. Bidang-bidang ilmu pengetahuan itu saling melengkapi satu dengan lainnya. Sintesa saintifik semacam ini diharapkan menghasilkan ilmu baru yang lebih berdampak secara positif, baik bagi perkembangan ilmu maupun bagi kemaslahatan masyarakat.

Sebagai contoh dari integrasi substansial adalah integrasi antara Ilmu Kedokteran modern/kontemporer dengan Ilmu Kedokteran Islam. Materi-materi tentang penyakit, obat-obatan dan hal-hal lainnya yang bersumber dari literatur keislaman diintegrasikan dengan hasil-hasil penelitian laboratorium di Ilmu Kedokteran modern/kontemporer. Integrasi kedokteran semacam ini bukan hal yang mustahil. Itu sangat mungkin dilakukan. Di abad pertengahan, banyak ulama yang mengintegrasikan Ilmu Kedokteran pada masanya (berbasis pada Ilmu Kedokteran Yunani) dengan Ilmu Kedokteran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis-Hadis Nabi. Sebagai contoh, Syams al-Din Muhammad ibn Ahmad al-Dzahabi (w. 748 H./1348 M.) yang menyusun kitab al-Thibb al-Nabawi dan Ibn Qayyim al-Jawziyah (w. 751 H./1350 M.) yang menyusun kitab Miftah Dar al-Sa‘adah dan kitab al-Thibb al-Nabawi. Di dalam ketiga kitab ini kita mendapati banyak teori kesehatan dan kedokteran yang merupakan penggabungan keilmuan Yunani di satu sisi dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadis-Hadis Nabi di sisi lain. Integrasi ini dikenal dengan Graeco-Islamic Medicine (Kedokteran Yunani-Islam). Salah satu teori kesehatan yang mereka kemukakan adalah bahwa sumber penyakit fisik bisa jadi berasal dari excessive emotions (emosi yang berlebihan). Kondisi terlalu marah dan terlalu takut bisa menimbulkan symptoms (tanda-tanda) penyakit pada tubuh manusia. Dalam hal ini, saya ingin mengutip pernyataan seorang peneliti, Ermeli Perho, berikut ini:

The Graeco-Islamic medicine represented a holistic approach to health and illness, where both physical and emotional balance were seen as prerequisites of health. In order to maintain health, it was important that a person followed a life-style suitable to his or her temperament. Apart from suitable diet and physical activities, people should avoid excessive emotions because these could affect the balance of the body and lead to serious physical symptoms. (Ermeli Perho, “Medicine and the Qur’an”, dalam EQ, Vol. 3).

Ilmu Kedokteran Islam tidak hanya berbasis pada temuan laboratorium semata, tetapi juga berbasis pada spritualitas keislaman yang mendalam. Al-Dzahabi dan Ibn Qayyim al-Jawziyah bahkan mempunyai pandangan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an tertentu dapat menjadi obat untuk menghilangkan penyakit. Obat semacam ini disebut dengan al-thibb al-ilahi (divine medicament). Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Fakhr al-Din al-Razi. Ketika menafsirkan Q. al-Isra’:82, al-Razi berpendapat bahwa Al-Qur’an dapat menjadi obat bagi penyakit ruhani/jiwa dan penyakit fisik.

Dengan integrasi semacam ini diharapkan bahwa alumni dari fakultas kedokteran di PTKI memiliki keahlian ‘ganda’. Dari satu sisi mereka memiliki ilmu kedokteran umum/kontemporer dan di sisi lain mengetahui teori-teori kedokteran dalam Islam.

Integrasi Studi Islam dan Robotika

Di antara contoh lain Integrasi Substansial adalah integrasi antara Studi Islam dan Robotika. Saat ini telah ada, misalnya, robot-robot yang membantu manusia di dapur, di perkantoran dan di tempat-tempat publik lainnya. Dengan bantuan kecerdasan buatan (artficial intelligence) robot-robot tersebut dapat ‘berkomunikasi’ dengan orang dan mengikuti perintahnya. Mereka dapat ‘mendengar’ dan ‘memahami’ perintah sesuai dengan program yang di-instal di dalamnya. Singkat kata, robot-robot ini diciptakan untuk mempermudah atau mempercepat pekerjaan manusia. Sekarang, bagaimana Robotika ini diintegrasikan dengan Studi Islam? Kita asumsikan ada dua orang ahli: satu ahli robotika dan yang lain pakar Studi Islam. Dua orang ahli ini membuat sebuah robot yang bukan berfungsi sebagai pembantu di dapur atau di perkantoran, tetapi berfungsi ahli tafsir, misalnya. Jadi, robot ini diisi dengan materi-materi dari kitab tafsir tertentu, misalnya, Jami‘ al-Bayan, karya Muhammad ibn Jarir al-Thabari, sehingga robot ini ‘mampu’ mengemukakan penafsiran oleh al-Thabari secara akurat. Ada banyak bidang lain dari Studi Islam, misalnya, hadis, fiqih, tasawuf dan kalam, yang dapat di-instal di dalamnya. Robot yang semacam ini di masa yang akan datang perlu dibuat, sehingga orang-orang dapat lebih mudah lagi dalam mempelajari Islam. Apakah peran ulama akan hilang karena robot ini? Jawabannya: tidak. Para ulama akan tetap penting karena mereka dapat memberikan kontribusi dalam mengisi content dalam robot, dan tentunya memberikan nasihat, arahan dan bimbingan keagamaan kepada manusia, karena dalam menjalani kehidupan mereka menghadapi hal-hal yang tidak hanya didekati dengan pengetahuan, tetapi juga dengan ‘rasa’. Manusia mempunyai rasa sedangkan robot tidak.

Integrasi dalam Bidang Psikologi Islam

Termasuk integrasi substansial juga adalah integrasi antara Ilmu Psikologi dan Psikologi Islam. Hal ini perlu terus dikembangkan dari waktu ke waktu secara masif dan lebih baik lagi dengan cara mengembangkan teori, metode dan instrumen yang dapat digunakan untuk menganalisis atas perilaku manusia yang berhubungan erat dengan kondisi kejiwaan. Dalam Psikologi Islam, teori dan pandangan para ulama yang didasarkan pada pemahaman atas teks-teks Alquran dan Hadis Nabi serta fenomena perilaku manusia dikaji dan digabungkan dengan teori-teori psikologi kontemporer di PTKI. Pemikir dan ulama Muslim yang banyak berbicara tentang jiwa manusia, antara lain, Ibn Sina, al-Farabi, al-Imam al-Ghazali, dan al-Imam Fakhr al-Din al-Razi. Sebagai contoh, al-Razi ketika menafsirkan Q.S. al-Isra’:85 mengatakan, antara lain: “Ruh-ruh pada awal penciptaannya itu kosong dari berbagai ilmu pengetahuan (al-‘ulum wa al- ma‘arif), lalu dalam perkembangannya mereka mendapatkan ilmu-ilmu dan hal ini terus mengalami perubahan dari satu kondisi ke kondisi lain, dari dari kondisi ketidaksempurnaan ke kondisi kesempurnaan. Perubahan semacam ini merupakan salah satu tanda bahwa ruh-ruh itu makhluk.” (al-Razi, Mafatih al-Ghayb).

C. Integrasi Etis

Integrasi etis ini adalah integrasi ilmu-ilmu umum dengan norma dan nilai etika sosial keagamaan, Integrasi semacam ini telah dilakukan oleh para ulama di masa lalu. Sebagai contoh, Jalal al-Din al-Suyuthi menggabungkan ilmu kedokteran dan kesehatan dengan aspek spiritual, khususnya dzikir. Dalam kitabnya al-Rahmah fi al-Thibb wa al-Hikmah beliau menyebutkan bacaan-bacaan dari Al-Qur’an dan Hadis Nabi dalam mengobati penyakit-penyakit fisik. Dari satu sisi, beliau mengemukakan berbagai ramuan obat untuk berbagai penyakit, dan di sisi lain menyampaikan bacaan-bacaan dzikir ketika mengkonsumsi obat-obatan tersebut.

Ayat salāmun qawlan min rabbin rahim, tegas al-Suyuthi, bila dibaca sebanyak 280 kali setiap hari, maka orang yang membacanya insya Allah akan selamat dari wabah penyakit (al-Suyṭhi, al-Rahmah fi al-Thibb wa al-Hikmah, 115). Masih di dalam kitab tersebut, al-Suyuthi menerangkan bahwa di antara dzikir yang bertujuan untuk mengobati segala penyakit adalah bacaan Surat Al-Fatihah, Ayat al-Kursi, Surat al-Ikhlash, Surat al-Falaq, Surat al-Nas, bacaan lā ilāha illā L-lāhu waḥdahu lā syarīka lahu lahu l-mulku wa-lahu l-ḥamdu yuḥyī wa-yumītu wa-huwa ḥayyun lā yamūtu biyadihi l-khayru wa-huwa ‘alā kulli syai’in qadīr, dan shalawat atas Nabi Muhammad saw. Semua yang disebutkan itu masing-masing dibaca sebanyak 70 kali di atas air putih (yang steril, tentunya). Kemudian air tersebut diminum selama tujuh hari oleh orang yang sedang menderita penyakit (hlm. 113).

Kitab-kitab yang mengintegrasikan ilmu umum dan spiritualitas semacam ini cukup banyak di literatur keislaman. Hal ini tentunya perlu dihidupkan kembali di PTKI dalam rangka pengembangan ilmu di masa kontemporer ini dan dalam upaya spiritualisasi ilmu-ilmu sekuler.

Hal-hal yang penulis sampaikan di atas adalah sekedar beberapa contoh integrasi-integrasi keilmuan yang dapat dilakukan atau dimplementasikan di PTKI. Semakin banyak dan berkualitas implementasi integrasi keilmuan ini dilakukan oleh para ilmuan, intelektual dan cendikiawan Muslim di PTKI, maka semakin besar pula kemungkinan pengembangan keilmuan dan semakin kentara juga distingsi keilmuan di PTKI.



Sahiron (Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam)
Bagikan:

Pencarian