Kemenag Pacu Literasi–Numerasi Guru Madrasah, Kepala Sekolah dan Pengawas Jadi Kunci Perubahan
Jakarta (Kemenag) — Kementerian Agama melalui Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah mempercepat penguatan kompetensi literasi dan numerasi guru sebagai fondasi peningkatan mutu pendidikan madrasah. Langkah ini diwujudkan melalui pelatihan intensif selama tiga hari yang melibatkan kepala madrasah, pengawas, serta pemangku kepentingan dari Kemenag Kota dan Kabupaten Bekasi, bersama mitra program INOVASI.
Program yang digelar pada awal 2026 ini menjadi bagian dari strategi besar reformasi kualitas pembelajaran di madrasah. Fokusnya tidak lagi semata pada guru sebagai individu, melainkan pada penguatan kepemimpinan pembelajaran di tingkat satuan pendidikan.
Kasubdit Bina GTK MI dan MTs, Rini, menegaskan bahwa capaian literasi dan numerasi guru madrasah masih perlu didorong lebih serius. Hal ini selaras dengan hasil asesmen internasional seperti PISA yang menunjukkan posisi Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara lain.
Menurutnya, kepala madrasah memegang peran krusial sebagai motor penggerak perubahan. Mereka tidak hanya mengelola administrasi, tetapi juga menentukan arah kebijakan pembelajaran, membangun budaya akademik yang kuat, serta memastikan praktik pembelajaran berjalan efektif dan berdampak.
“Penguatan literasi, numerasi, dan moderasi beragama membutuhkan kepemimpinan pembelajaran yang solid. Kepala madrasah harus mampu mengorkestrasi seluruh sumber daya untuk menciptakan ekosistem belajar yang berkualitas,” ujarnya.
Di sisi lain, pengawas madrasah didorong menjadi mitra strategis dalam peningkatan mutu melalui supervisi akademik berbasis data. Peran ini mencakup pendampingan berkelanjutan dalam perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi pembelajaran di kelas.
Kolaborasi dengan program INOVASI turut memperkuat intervensi melalui penyediaan modul literasi dan numerasi yang aplikatif. Materi tersebut dirancang untuk langsung diimplementasikan, dengan target jangka menengah meningkatkan performa peserta didik Indonesia dalam asesmen global.
Tak hanya guru, Direktorat GTK Madrasah juga memperluas fokus peningkatan kompetensi ke tenaga kependidikan lain, seperti pustakawan dan laboran. Langkah ini mencerminkan pendekatan ekosistem, di mana kualitas pembelajaran dibangun secara menyeluruh.
Perubahan pendekatan pada 2026 menjadi penanda penting: dari pelatihan berbasis individu menuju penguatan struktur kepemimpinan di madrasah. Evaluasi sebelumnya menunjukkan bahwa peningkatan kompetensi yang hanya menyasar guru cenderung tidak menyebar secara optimal di lingkungan sekolah.
Sebaliknya, dengan melibatkan kepala madrasah dan pengawas sebagai pengambil kebijakan, transformasi diharapkan lebih sistematis dan berdampak luas.
Kemenag juga memastikan keberlanjutan program melalui integrasi hasil pelatihan ke dalam platform digital MOOC Pusbangkom BMBPSDM. Platform ini akan menjadi ruang belajar berkelanjutan bagi guru dan tenaga kependidikan.
Di tengah tuntutan peningkatan kualitas pendidikan nasional, langkah ini menegaskan bahwa kunci perubahan tidak hanya terletak pada kapasitas individu guru, tetapi juga pada kepemimpinan yang mampu menggerakkan sistem secara utuh.
Tanpa kepemimpinan pembelajaran yang kuat dan pengawasan akademik yang efektif, upaya peningkatan kualitas di ruang kelas berisiko berjalan tanpa arah dan dampak yang signifikan.